Catatan Seminar Parenting
Sabtu, 24 Oktober 2020
Pembicara: Ustadz M. Azam Shidqi Lc., M.S.I.
🌾Semua harus berbalut syukur.
Sangat sedikit hamba Allah yg pandai bersyukur. Semoga kita termasuk ke dalamnya. Hari ini hari ke 223 sejak 16 Maret awal pandemi. Jika di awal ada target hafal Al Baqarah sekarang mungkin sudah hafal 223 ayat.
Kalau seandainya 15 tahun yang lalu saya punya target anak saya ingin saya bentuk seperti ini, mungkin sudah tercapai target kita.
Penyesalan adalah Taubat, kata Rasulullah.
🌾Ada 3 fragmentasi usia anak:
1-7 th
8-11 th
12-18 th
🌾Berbeda perkembangan dan berbeda pula cara menyelesaikan masalah.
Kemampuan ini akan terus berkembang sampai usia 25 tahun. Berkembang baik yakni ketika mampu menyelesaikan konflik sosial tanpa intervensi orang dewasa.
Sebagai titik balik Rasulullah menikah saat berusia 25 tahun.
🌾Proses ini membutuhkan support orangtua:
1. Pendampingan
2. Peningkatan/ upgrading potensi anak
3. Pengawasan
🌾Perkembangan kognitif anak berkembang seiring kemandirian anak.
Dari sejak bayi Rasulullah dirawat oleh Bani Saad, inilah cara Allah membuat Nabi Muhammad mandiri.
🌾Anak akan menggunakan memori utk menyelesaikan masalah yg pernah dilalui, misal merekam memori penyelesaian masalah temannya. Lalu jika menemui masalah yg sama maka akan melakukan penyelesaian masalah dengan cara sama.
Anak juga akan merekam cara penyelesaian masalah dari orang tua.
🌾Memperhatikan aspek fundamental kognitif
Cara terbaik mengolah ingatan dg cara menghafalkan Al Qur'an, kata2 hikmah, quote positif, yang dapat memperkuat ingatan mereka.
Dukung kemampuan berkreasi dan inovasi mereka, pacu dan picu, respon dengan yang positif agar kognitif berkembang, sehingga kemampuan penyelesaian masalahnya berkembang.
Dengan berkali kali menyelesaikan masalah maka akan terasah kemampuan penyelesaian masalahnya.
Anak yg sholatnya terlatih dg khusyuk akan terasah konsentrasinya maka akan mudah fokus melakukan penyelesaian masalah.
🌾Kecepatan memproses informasi.
Ketika info yg diterima memadai, maka anak punya opsi dalam menyelesaikan masalah sehingga lebih banyak peluang solusinya.
Lingkaran problem solving: Cara berpikir, memahami, kemampuan mengingat dan membuat keputusan.
🌾Bagaimana cara Rasulullah sebagai contoh yg menghidupi sisi kehidupan kita, cara menstimulasi anak mengatasi masalahnya sendiri:
1. Menjadikan ortu teman mereka, tidak membangun sekat agar bisa dekat. Kebaikan kita adalah kebaikan mereka, memposisikan diri kita sehingga penting utk mereka.
2. Menanamkan kegembiraan pada anak. Zubair bin awam pernah mengajak anaknya ikut perang, mengajarkan bagaimana seni berperang, menunggang kuda, menyasar anak panah, bagaimana bertahan dari serangan musuh.
Anak dekat dg ortu, persuasif, argumentatif dan realistis. Anak membutuhkan contoh yg real dr ortu.
Contoh saat UN, kita bisa mendampingi anak saat mendapat kesulitan, kita diharapkan mendengar keluh kesah mereka. Selalu memandang masalah anak yg diungkapkan secara verbal, mengenali motif mereka apa, perlu dipahami oleh orangtua.
3. Posisikan diri menjadi orangtua yg menggembirakan, bukan sosok yg menakutkan. Anak akan kebingungan mencari solusi untuk penyelesaian masalah yg mereka hadapi.
Sebagai ayah juga, jangan sampai meskipun berkumis dan jenggot tampak menakutkan. Tersenyum kepada anak juga sedekah, anak mempunyai hak lebih utk mendapatkan senyuman kita, jangan sampai kita acuh. Seperti mereka akan menemukan solusi setiap masalah mereka, mendapat dekapan dari setiap masalah mereka.
Nabi suka mengusap kepala anak. Ketika mengusap kepala anak, ada empati, solusi yg akan menentramkan. Senang menggendong dan menimang anak2.
Perhatian dan sokongan diberikan oleh ortu. Mencium kening dan tangan anak2. In syaa Allah semakin mendewasakan, merasa ortu hadir dalam kehidupan mereka.
Makan bersama anak2, memeluk dan memuji anak2.
4. Menghadirkan jiwa kompetisi anak, sehingga anak bisa berpikir bagaimana caranya menang, mencari solusi. Setiap orang punya tujuan maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.
Mengikutsertakan pada perlombaan yg positif. Sehingga bisa berlatih menyelesaikan masalah.
Memotivasi dan mendukung potensi anak. Hadiah fisik dan psikis baik utk mendukung potensi anak. Dengan panggilan sayang, dekapan, wahai putraku, wahai putra saudaraku.
Memberikan ruang utk mengungkapkan pendapat di depan publik. Memberikan semangat supaya tidak malu.
5. Anak bisa tergali kemampuan penyelesaian masalahnya. Ketika memfasilitasi anak dengan buku-buku yg edukatif, yg membuka jendela cakrawala yg baru. Semakin memori positifnya banyak, maka jika menemui masalah ini ia akan paham jendela solusinya yang ini.
6. Biasakan bermain bersama anak.
Biarkan anak2 bermain di dada kita. Jangan berbuat sedikit2 langsung ditegur. Ketika jiwa anak2 gembira, anak2 tidak akan menganggap suatu masalah itu suatu yang berat ketika jiwanya tentram dan tidak merasa terintimidasi. Mengabulkan keinginan dan mengarahkan bakat anak.
*Filosofi balon*
🎈Jika ditiup lemah maka balon tidak mengembang. Anak tidak akan berkembang jika tidak diasah, maka dia akan berjiwa kecil.
🎈Jika tidak sabaran, maka balon akan pecah. Jika instan memaksa anak, emosinya akan meledak2.
🎈Balon butuh di maintain ditiup secara berkala. Kebutuhan anak, kita penuhi secara bertahap dan kontinyu.
*Kesimpulan*
1. Mengenali bahwa cara anak menyelesaikan masalah itu berbeda2
2. Meneladani Rasulullah dalam mendidik anak.
3. Mengingat Filosofi Balon dalam mendidik anak
Komentar
Posting Komentar